Rabu, 02 Mei 2012

WARISAN BUDAYA YANG MELEKAT PADA SETIAP MANUSIA DIINDONESIA

I. PENDAHULUAN

Pada hakekatnya, masyarakat di Indonesia tediri atas banyak keberagaman. Yaitu ada keberagaman agama, suku, ras, ethnik, dan lainnya. Tidak dipungkiri hal tersebut juga memunculkan keberagaman kebudayaan.  Untuk itu butuh rasa toleransi yang tinggi untuk menyikapai hal ini. Hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah mencega hal hal buruk itu terjadi. Karenanya diperlukan kerjasama dari semua pihak. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak negatif dari pengakuan warisan budaya indonesia adalah dengan tidak membawa budaya indonesia k negara lain
  karena warisan budaya di indonesia ini harus kita jaga sampai generasi penerus,  warisan budaya di indonesia ini peninggalaan dari ibu pertiwi, Di indonesia banyak ragam budaya dari Sabang sampai merauke

II. ISI

1. Definisi Budaya

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
 
2. Suku Sunda
 
Dalam hal ini saya akan memaparkan salah satu contoh dari budaya di Indonsia, yang kebetulan saya sebgai kerunan dari suku sunda. 
Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat. Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia, setelah etnis Jawa. Sekurang-kurangnya 15,41% penduduk Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas orang Sunda beragama Islam. Namun dalam kehidupan sehari-hari, masih ada sebagian kecil masyarakat yang mempercayai kekuatan-kekuatan supranatural, yang berasal dari kebudayaan animisme dan Hindu. Kepercayaan tradisional Sunda Wiwitan masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat suku Baduy di Lebak yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.
Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, dan riang, akan tetapi banyak juga dari mereka yang bersifat pemalu dan terlalu perasa secara emosional.[2] Orang Portugis mencatat dalam Suma Oriental bahwa orang sunda bersifat jujur dan pemberani. Karakter orang Sunda yang periang dan suka bercanda seringkali ditampilkan melalui tokoh populer dalam cerita Sunda yaitu Kabayan dan tokoh populer dalam wayang golek yaitu Cepot, anaknya Semar. Mereka bersifat riang, suka bercanda, dan banyak akal, tetapi seringkali nakal. Orang sunda juga pandai dalam diplomasi. Sang Hyang Surawisesa atau Raja Samian sudah melakukan diplomasi pada abad ke 15 dengan orang Portugis di Malaka. Hasil dari diplomasinya dituangkan dalam Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal. Beberapa tokoh Sunda juga menjabat Menteri Luar Negeri pada kabinet RI.
Disamping prestasi dalam bidang politik (khususnya pada awal masa kemerdekaan Indonesia) dan ekonomi, prestasi yang cukup membanggakan adalah pada bidang budaya yaitu banyaknya penyanyi, musisi, aktor dan aktris dari etnis Sunda, yang memiliki prestasi di tingkat nasional, maupun internasional.[3]

Etimologi

Sunda berasal dari kata Su yang berarti segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan. Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas). Karakter ini telah dijalankan oleh masyarakat yang bermukim di Jawa bagian barat sejak zaman Kerajaan Salakanagara.
Nama Sunda mulai digunakan oleh raja Purnawarman pada tahun 397 untuk menyebut ibukota Kerajaan Tarumanagara yang didirikannya. Untuk mengembalikan pamor Tarumanagara yang semakin menurun, pada tahun 670, Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13, mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Kemudian peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.

  
Berikut ini saya sebutkan beberapa makanan khas sunda dan budaya suku sunda :
Sega Lengko
Sega lengko ini makanan khas dari Indramayu dan Cirebon, bagi wong Dermayu dan Cerebon makanan ini sudah tidak asing lagi, biasanya disana untuk sarapan pagi sebelum menjalankan aktivitas cukup membeli Sega Lengko, nasi ditambah toge, mentimun daun semanggi juga ada kangkung dikasih bumbu yang khas waduh nikmatnya, di kota2 besar sepertti Jakarta dan sekitarnya dan Bandung itu sudah ada out let yang menjual Sega Lengko

Karedok
Makanan karedok atau keredok adalah juga merupakan makanan khas sunda jawa barat. Secara umum gambaran keredok menggunakan bahan-bahan mentah(tidak di masak) di tambah dengan bumbu kacang. Bedanya dengan gado-gado adalah gado-gado di masak bahan bakunya, sedang keredok tidak.  Makanan karedok ini dibuat dengan menggunakan bahan-bahan diantaranya adalah ketimun, ada tauge, kol, kacang panjang, daun kemangi, serta terong. Sedangkan untuk bahan sausnya dibuat dari bahan cabai merah, bawang putih, kencur, kacang tanah, air asam, gula jawa, garam, dan terasi. maknyos di makan ketika makan siang bersama keluarga

Ladu
Makanan atau jajanan Ladu ini merupakan suatu penganan yang terbuat dari ketan. Makanan tradisional ini yang berasal dari daerah Malangbong, Garut, Jawa Barat. Untuk pembuatan Ladu, bahan dasarnya terbuat dari tepung ketan putih sangrai, kemudian gula putih, gula aren merah, serta kelapa yang telah diparut.

Lotek
Makanan Lotek ini hampir mirip dengan pecel, yaitu jenis makanan dari beberapa sayuran yang sudah direbus kemudian disiram dengan menggunakan sambal dari bumbu bumbu kacang. Yang menjadi keunikan dari makanan ini yaitu bahan untuk sambalnya di samping kacang seringkali juga ditambahkan pakai tempe dan dalam bumbunya ditambahkan terasi, gula merah, dan bawang putih.




III. PENUTUP

KESIMPULAN :

Dari penjelasan diatas bahwa dapat dijelaskan bahwa keanekaragaman suku, budaya, agama,ras, dan etnis tidak dapat mempecah belah negara ini. Bahkan banyak pujian dan sanjungan dari negara lain atas kuatnya rasa toleransi dan tenggang rasa pada masyarakat di Indonesia. Seharusnya kita bersyukur bahwa negara ini masih diberi perlindungan dan kedamaian oleh Tuhan YME.

SARAN :
Sebaiknya kita turut andil dalam melestarikan budaya kita yang beragam ini, seharusnya pemerintah pun lebih serius dalam memperhatikan perkembangan budaya masyarakat di Indonesia.
  

DAFTAR PUSTAKA

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda
  • http://aristyawandh.blogspot.com/2012/04/makanan-khas-sunda.html 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar