Selasa, 29 Maret 2011

TUGAS 7S(SENIN KE TUJUH)


TUGAS 7S (7S=Senin ke Tujuh)
Catatan: Jawaban di BAB VI ‘Edisi REVISI New’
Pilih jawaban yang benar dari 10 soal PG dibawah ini, Jawaban A, B, C atau D yang benar bisa ditebalkan atau di tulis dibawah soalnya. 

NAMA               : FERDIAN ARISWANTO
NPM                 : 32110724
KELAS              : 1DB19 

1.      Pernyataan yang paling tepat tentang “Two Way Traffic” adalah:
a.      Komunikasi yang terjadi antara dua orang dimana si komunikan tidak merespon tidak merespon informasi dari si komikator
b.      Komunikasi yang terjadi apabila seseorang pengirim berita tidak bermaksud untuk menerima umpan balik dari orang yang menerima secara langsung
c.       Komunikasi yang dilakukan diantara sesame karyawan yang berada dalam tingkatan struktur organisasi yang sama dimana keduanya saling berkomentar dan bereaksi
d.      Komunikasi yang dimaksudkan untuk memberikan informasi atau menyampaikan perintah dari atasan untuk dikerjakan karyawan

2.      Komunikasi yang dilakukan dalam penyampaian berita, laporan maupun perintah antara si pengirim berita kepada penerima berita ada umpan balik pada saat itu juga disebut:
a.      Komunikasi Formal
b.      Komunikasi Langsung
c.       Komunikasi Horizontal
d.      Komunikasi Tidak Langsung

3.      Yang tidak termasuk dalam hambatan-hambatan komunikasi yang bersifat teknologi:
a.      Bahasa dan pengertian
b.      Isyarat non verbal
c.       Iklim
d.      Efektifitas saluran

4.      Aliran komunikasi yang mencakup seluruh transmisi informasi yang memotong silang berbentuk interaksi antara para manajer lini dan para anggota staf atau unit-unit pelayanan disebut:
a.      Aliran Vertical                                        c. Aliran Lateral
b.      Aliran Horizontal                                   d. Aliran Diagonal

5.      Dibawah ini merupakan contoh aliran komunikasi vertical ke atas:
a.      Rantai perintah                                     c. Mata-mata karyawan
b.      Laporan tahunan                                  d. Buku petunjuk

6.      Para penerima berita yang mendua (membingungkan) cenderung melengkapi atau menutup kekurangan informasi:
a.      Codensation                                          c. Expectation
b.      Closure                                                   d. Asosiation

7.      Penambahan saluran-saluran masukan dan keluaran seperti penambahan saluran staf  khusus atau paralel bila wewenang didesentralisasikan di sebut:
a.      Penyaringan
b.      Pengantrian
c.       Penyingkatan
d.      Penetapan saluran ganda

8.      Untuk menangani kelebihan informasi biasanya berita diproses berdasrkan prioritas, berita yang berprioritas rendah akan ditunda atau dijadwalkan kembali, hal ini disebut:
a.      Penyaringan
b.      Pengantrian
c.       Penyingkatan
d.      Penetapan saluran ganda

9.      Di dalam Fase Intensif terdapat kemungkinan saluran komunikasi tidak dapat menampung kebutuhan informasi hal tersebut akan berdampak pada hal-hal dibawah ini kecuali:
a.      Pimpinan menghadapi pilihan mekanisasi dan otomatisasi
b.      Gangguan dalam waktu pelepasan informasi
c.       Kesulitan penyimpanan serta pengambilan kembali informasi dari tempat penyimpananya
d.      Gangguan dalam proses umpan balik

10. Dibawah ini merupakan teknik-teknik peningkatan efektifitas komunikasi, kecuali:
a.      Penetapan saluran-saluran pribadi
b.      Kredibilitas serta persepsi selektif
c.       Penetapan dewan khusus
d.      Pembentukan tim-tim tugas dan manajemen

Jawaban:
1.c
2.b
3.c
4.d
5.c
6.b
7.d
8.b
9.a
      10. b


Minggu, 27 Maret 2011

10 PEMILIK KLUB SEPAKBOLA TERKAYA DI DUNIA

Harta sepuluh pemilik klub bola terkaya di dunia melonjak US$36 miliar dibandingkan tahun lalu. Namun, kenaikan kekayaan mereka tidak terkait dengan klub bola. Harta mereka lebih berasal dari kenaikan harga komoditas, serta pulihnya bursa saham di tingkat dunia.
Mereka adalah para taipan yang menguasai bisnis menguntungkan di dunia, mulai dari baja, media dan fashion. Mereka juga banyak berinvestasi di komoditas seperti baja, minyak dan tambang lainnya. Sebut saja misalnya Lakshmi Mittal. Kekayaan miliarder asal India ini meningkat US$9,4 miliar dari tahun lalu menjadi US$28,7 miliar.
Lantas, siapa saja mereka?
Berikut ini daftar miliarder pemilik klub bola ternama di dunia seperti ditulis Forbes.
1. Lakshmi Mittal

Kekayaan: US$28,7 miliar
Klub: Queen’s Park Rangers
Lakshmi adalah warga Inggris kelahiran India yang mengendalikan ArcelorMittal, produsen baja terbesar dunia dengan penjualan US$65 miliar dalam setahun. Mittal membeli 20 persen saham di Queens Park Rangers (QPR) pada 2007. Prestasi tertinggi klub ini, finalis Piala FA. Pemegang saham utama QPR, lebih dari 60 persen adalah bos Formula One, yakni Bernie Ecclestone.
2. Amancio Ortega

Harta: US$25 miliar
Klub: Deportivo La Coruna De
Ortega, dikenal sebagai raja fashion sekaligus pendiri raksasa ritel Spanyol, Inditex dikenal sebagai salah satu orang kaya papan atas dunia. Klub bolanya juga berada di peringkat sembilan di La Liga. Dengan peringkat yang masih jauh ketimbang Real Madrid dan Barcelona, manajemen klub menekankan perlunya membangun stadion baru agar bisa kompetitif dengan para pesaing.
3. Paul Allen

Harta: US$13,5 miliar
Klub: Seattle Sounders
Pendiri Micorsoft, Paul Allen melalui Vulcan Sports & Entertainment bergabung sebagai pemilik Seattle Sounders pada 2007. Klub bola ini juga dimiliki oleh produser film Joe Roth, pengusaha Adrian Hanauer dan Drew Carey. Sounders menyelesaikan musim pertandingan 2009 di Liga Amerika Serikat dengan meraih rekor kemenangan.
4. Roman Abramovich

Harta: US$11,2 miliar
Klub: Chelsea
Dua tahun lalu, harta Roman Abramovich penguasa komoditas Rusia sempat menurun akibat penurunan harga. Namun, tahun lalu kembali pulih seiring dengan lonjakan harga baja dunia. Namun, kondisi berbeda terjadi pada klub bola miliknya. Chelsea menderita kerugian US$73 juta tahun lalu. Meski The Blues sukses di Liga Primer sejak kedatangan Abramovich, namun keuangan Chelsea kerap mengalami kerugian.
5. Silvio Berlusconi

Harta: US$9 miliar
Klub: AC Milan
Perdana Menteri Italia, sekaligus konglomerat media ini tersengat dalam tuduhan korupsi, skandal seks hingga pernah dijahar dengan patung di kota Milan. Meski begitu, kekayaannya meningkat 20 persen tahun lalu berkah dari investasinya di Mediaset dan Mediolanum. AC Milan merupakan klub bergengsi di Italia, sekaligus dihuni oleh para pemain bintang bola dunia.
6. Francois Pinault
Harta: US$8,7 miliar
Klub: Stade Rennais (Rennes)
Francois Pinault dikenal sebagai pendiri grup PPR yang membangun merek-merek barang mewah. Sebut saja misalnya Gucci dan Balenciaga, dua merek terkenal yang berada di bawah kendali PPR. Dia menggunakan klub olahraga untuk mempromosikan produk olahraga besutan PPR, yakni Puma.
7. John Fredriksen
Harta: US$7,7 miliar
Klub: Valerenga
John Fredriksen, sosok yang begitu dikenal dalam dua sisi, sebagai raja perkapalan dan tanker minyak, sekaligus dikenal sebagai pengusaha yang menghindari pajak. Fredriksen menjadi warga negara Cyprus pada 2006 untuk menghindari pajak dari Norwegia. Fredriksen juga pernah dikabarkan menolak tawaran Roman Abramovich yang berniat membeli rumahnya di London senilai US$200 juta pada 2006.
8. Alisher Usmanov
Harta: US$7,2 miliar
Klub: Arsenal
Usmanov, namanya melambung sebagai pengusaha baja dan telekomunikasi. Selama tiga tahun dia bersaing dengan pengusaha Amerika, E. Stanley Kroenke untuk mengendalikan Arsenal. Namun, Kroenke muncul sebagai pemenang dengan memiliki 29,9 persen saham Arsenal ketimbang Usmanov yang memegang 26,3 persen. Nilai klub Arsenal tahun lalu turun 2 persen menjadi US$1,18 miliar.
9. Philip Anschutz
Harta: US$6 miliar
Klub: Los Angeles Galaxy, Houston Dynamo, Hammarby
Mewarisi perusahaan pengeboran minyak Amerika, Anschutz mengembangkan portofolio investasinya ke bursa saham, real estat, kereta api hingga bisnis hiburan. Dia dikenal sebagai pendiri Major League Soccer (MLS) di Amerika, sekaligus sebagai pemilik beberapa klub bola, seperti LA Galaxy, Chicago Fire, Houston Dynamo, hingga klub bola Swedia Hammaraby.
10. Bernard Ecclestone
Harta: US$4 miliar
Klub: Queen’s Park Rangers (QPR)
Ecclestone yang dikenal sebagai Presiden dan CEO Formula One sempat menjadi gunjingan media massa dalam beberapa tahun terakhir terkait dugaan skandal seks dan anti Semitisme. Dia juga berupaya menghindari terjadinya perpecahan di Formula One setelah tim ternama seperti Ferrari mengancam hengkang. Prestasi tertinggi klub ini, finalis Piala FA.

Incoming search terms:

10 presiden terkaya di dunia,clup terkaya dilondon,pemain bola termahal di dunia 2011,pemain bola terkaya 2011,negara terkaya di dunia 2011,pemain sepak bola terkaya di dunia 2011,pemain bola terkaya di dunia 2011,presiden terkaya,orang terkaya 2011,presiden terkaya di dunia,pemain sepak bola terkaya 2011,orang terkaya di dunia tahun 2011,pemain sepak bola termahal di dunia 2011,klub terkaya di dunia 2011,orang terkaya di dunia 2011,pemilik club sepak bola terkaya,pemilik klub terkaya di dunia,club terkaya 2011,club termahal di dunia 2011,10 orang terkaya di dunia 2011

Paramore - Misguided Ghosts Lyrics

I'm going away for a while
But I'll be back, don't try and follow me
'Cause I'll return as soon as possible

See, I'm trying to find my place
But it might not be here where I feel safe
We all learn to make mistakes

And run from them, from them
With no direction
Run from them, from them
With no conviction

'Cause I'm just one of those ghosts
Traveling endlessly
Don't need no roads
In fact they follow me

And we just go in circles
But now I'm told that this life
And pain is just a simple compromise
So we can get what we want out of it

Someone care to classify
A broken heart and twisted minds
So I can find someone to rely on

And run to them, to them
Full speed ahead
Oh, you are not useless

We are just misguided ghosts
Traveling endlessly
The ones we trusted the most
Pushed us far away

And there's no one role
We should not be the same
But I'm just a ghost
And still they echo me
They echo me in circles

Green Hornet

“The Green Hornet” awalnya merupakan karakter fiktif yang dikreasi oleh George W. Trendle dan Fran Striker untuk sebuah acara di stasiun radio Amerika, yang debut pada tahun 1936. Sejak saat itu karakter The Green Hornet dan Kato, sidekick-nya muncul di banyak media, termasuk kemunculan serial komik dan film seri di tahun 1940an. Tidak hanya itu, The Green Hornet juga dibuatkan serial televisinya yang tayang dari tahun 1966 sampai 1967. Ada yang menarik tentang The Green Hornet versi serial televisi yang dimainkan oleh Van Williams sebagai Britt Reid aka Green Hornet ini, orang yang berperan sebagai Kato adalah Bruce Lee. Lewat serial Green Hornet, peran Bruce Lee sebagai Kato pun akhirnya secara tidak langsung memperkenalkan budaya beladiri negeri Amerika dengan kungfu., dan beladiri tersebut pun mulai populer sejak tahun 60an.
The Green Hornet ternyata tidak hanya dikenal di Amerika saja namun sukses di Hongkong, dengan judul yang lebih dikenal dengan “The Kato Show”, sejak saat itulah Bruce Lee akhirnya main di beberapa film dan membuatnya terkenal seperti apa yang kita tahu sekarang, seorang pop culture icon. Walaupun komik The Green Hornet masih bermunculan hingga tahun 2010, namun karakter ini tidak lagi pernah muncul di televisi maupun film, kecuali karakter Kato yang dibuat tributnya di film Hongkong “Black Mask” yang dimainkan oleh Jet Li pada tahun 1996, lalu ada “Legend of the Fist: The Return of Chen Zhen” yang dalam salah satu bagian filmnya, Donnie Yen memerankan karakternya Chen Zhen diperlihatkan sedang menyamar dengan gaya yang diinspirasi oleh Kato. Nah barulah di tahun 2011 ini, The Green Hornet kembali muncul untuk pertama kalinya di layar lebar, disutradarai oleh Michel Gondry (Eternal Sunshine of the Spotless Mind, The Science of Sleep, Be Kind Rewind).
Film yang dibintangi oleh Seth Rogen sebagai Britt Reid alias Green Hornet, sedangkan Kato dimainkan oleh Jay Chou ini, akan menceritakan seorang anak pengusaha media, Britt Reid yang diumurnya yang menginjak 28 tahun hanya bisa berleha-leha dari hasil kekayaan ayahnya, James Reid (Tom Wilkinson) yang ingin anaknya berubah dan tidak hanya berpesta dan justru berbuat memalukan sampai masuk surat kabar The Daily Sentinel, yang notabennya dimiliki sang ayah. Kehidupan liar Britt Reid pun masih saja berlanjut bahkan pada saat ayahnya ditemukan tewas karena alergi terhadap sengatan lebah, dia adalah orang yang terakhir mengetahui hal itu. Hubungan Britt Reid dengan ayahnya memang tidak berjalan sebaik itu, Britt pun hanya ingat dengan omelannya dan sifat kerasnya yang dia terima sejak kecil, namun kematian ini tetap saja membuat dia terpukul. Setelah pemakaman, Britt pun melampiaskan kekesalannya dengan memecat seluruh karyawan di rumahnya, kecuali seorang pelayan wanita dan beruntung dia tidak memecat Kato, seorang mekanik handal, jago beladiri, dan pembuat kopi terenak.
Pertemuan Britt dan Kato yang diawali dengan kopi lalu berlanjut dengan minum sampai mabuk bersama sambil saling melempar kebenciannya kepada mendiang James Reid. Mereka pun dengan konyol memutuskan pergi ke pemakaman dan memotong kepala patung ayah Britt. Disinilah untuk pertama kalinya Britt dan Kato beraksi menyelamatkan sepasang kekasih dari gangguan berandalan, namun mereka justru balik dikejar oleh para polisi karena disangka merekalah penjahatnya. Kejar-kejaran mobil pun terjadi, walau sedikit mengacau akhirnya Britt dan Kato selamat sampai kembali ke rumah. Diinspirasi oleh kejadian yang baru saja terjadi, Britt berpikir kenapa mereka tidak sekalian saja memerangi kejahatan, dengan menjadi semacam superhero, tetapi bedanya mereka akan berkedok sebagai penjahat untuk bisa mendekati penjahat yang sesungguhnya. Kato pun setuju dengan ide tersebut dan dengan keahliannya membuat alat-alat canggih dia segera menyiapkan semuanya, termasuk kostum, beberapa peralatan, senjata, dan kendaraan canggih yang dilengkapi senjata, bernama “Black Beauty”.
Britt juga memanfaatkan Daily Sentinel untuk mempromosikan aksi kejahatan mereka agar menjadi pusat perhatian orang banyak termasuk para penjahat. Sejak saat itu surat kabar yang diwarisi oleh sang ayah memfokuskan beritanya pada penjahat yang diberi nama “Green Hornet”. Dengan nama alter ego barunya, Britt dan Kato yang bertindak sebagai sidekick plus “supir” melanjutkan aksi kejahatan mereka. Di lain pihak, seorang penjahat beneran bernama Benjamin Chudnofsky (Christoph Waltz) yang menguasai pimpinan-pimpinan mafia di Los Angeles dibawah kekuasaannya, mulai gerah dengan ulah penjahat berkostum yang menganggu daerah kekuasaannya. “Green Hornet” pun sekarang punya musuh tandingan dan nama mereka tidak hanya jadi target media tetapi juga target pembunuhan, berhasilkah “Green Hornet” menangkap gembong penjahat LA atau justru mereka yang “disengat” lebih dahulu?
Nama Michel Gondry sendiri sudah menjadi daya tarik film ini, bagaimana sutradara Eternal Sunshine of the Spotless Mind ini nantinya akan menangani sebuah film action, karena selama ini Gondry dikenal dengan tema romantis, drama, dan komedi. “Green Hornet” pun tidak sepenuhnya akan berisi aksi-aksi pemacu adrenalin, menengok siapa nama penulisnya, yaitu Seth Rogen sendiri dan Evan Goldberg, wajar saja jika film ini juga akan dipenuhi oleh komedi yang bisa dibilang  begitu familiar dengan film-film Seth Rogen sebelumnya. Komedi sepertinya bukan masalah bagi Gondry, karena sebelumnya dia juga menyutradarai dan menulis sendiri film yang bertema komedi “Be Kind Rewind” dengan bintang utama Jack Black, tapi pertanyaannya adalah apakah Gondry bisa cocok dengan komedi yang ditulis oleh Seth Rogen dan Evan Goldberg. Kedua orang ini seperti yang kita tahu adalah partner in crime dalam menulis dan juga memproduseri film-film komedi dibawah bendera klan Judd Apatow, seperti contoh “Knocked Up”, “Superbad”, “Pineapple Express” dan “Funny People”. Pertanyaan tersebut tanpa basa-basi dijawab oleh Gondry dan “Green Hornet”-nya, bersiaplah tertawa karena sejak awal film ini akan menawarkan lelucon dan humor yang memang akan mengingatkan kita dengan gaya film produksi Apatow, tapi Gondry sendiri sepertinya mampu membatasi komedinya untuk tidak terlalu “Apatow” dan menjauhkan filmnya dari kesan tersebut.
Menyengat! itulah kata yang tepat ketika berbicara soal kemasan action yang dipadukan dengan komedi di “The Green Hornet”. Ketika komedinya begitu sukses membuat saya terpingkal-pingkal melihat bagaimana Seth Rogen bertingkah, plus dia sekarang tidak hanya akan beraksi dalam membuat orang tertawa tetapi juga bergelayut dalam film aksi superhero, yang jika saya tidak salah ingat memang belum pernah dia lakukan di film-film sebelumnya. Seth Rogen pun sanggup membagi porsi kelucuannya kepada Kato yang dimainkan oleh Jay Chou, yang walau porsi dialognya tidak sebanyak pemain lain tidak mengurangi pesona humornya disini, bahkan ketidakmampuan dia dalam berbahasa Inggris yang baik justru jadi kelucuan tersendiri. Seth Rogen tetaplah menjadi Seth Rogen yang kita kenal, kata-kata lucu yang keluar dari mulutnya, gaya beraktingnya ketika menyampaikan kelucuan tersebut tidak ada yang berubah, di film ini saya melihat Seth Rogen sebagai Seth Rogen, tetap lucu seperti biasanya, yang berbeda adalah dia kini adalah superhero bertopeng di film aksi-komedi yang ditangani oleh seorang Gondry.
Berbicara soal action, tidak adil juga jika dibilang “The Green Hornet” punya sajian aksi yang tidak ada apa-apanya, walau memang tidak ada yang baru kecuali ketika Gondry bermain dengan sesuatu yang spesial bernama “Kato Vision”, jejeran adegan aksinya bisa dibilang masih mampu menghibur mata dan juga adrenalin ini untuk meloncat-loncat bersama Kato dan Green Hornet, kenyataannya Gondry memang tidak membuat film aksi yang seburuk itu. Porsi aksi yang cukup melimpah memang tidak terlalu “menyengat” seperti apa yang dilakukan oleh porsi komedinya, namun semua itu tertutupi dengan apa yang disebut dengan “Kato Vision”, saya tidak akan membeberkan semua kejutan yang dipamerkan oleh Gondry disini, jadi sebaiknya memang tonton sendiri untuk merasakan sensasi “Kato Vision” tersebut. Sayangnya ajang pamer “Kato Vision” sangat langka di munculkan oleh Gondry, begitu pula dengan dukungan cerita yang berbobot. Seth Rogen dan Evan Goldberg betul-betul fokus mengisi ceritanya dengan ledakan humor ketimbang mengajak cerita untuk tidak menjurus klise dan di beberapa bagian cukup membosankan.
Cerita yang berfokus pada duo jagoan kita pun memberi ruang yang sempit pada porsi pemain lain untuk tampil lebih, Cameron Diaz misalnya yang bisa dibilang hanya jadi pemanis yang memberikan info bermanfaat bagi Green Hornet. Sedangkan Christoph Waltz yang bermain sebagai penjahat utama Chudnofsky, masih bisa menampilkan ciri khas aktingnya yang unik lewat aksen Rusianya dan gayanya yang terkadang konyol-konyol menakutkan. Waltz masih bisa memaksimalkan porsinya yang terbatas untuk bisa melebur dengan kelucuan-kelucuan yang ada, dia masih mampu tampil lucu tidak ingin kalah dengan Green Hornet tentunya. Dari segala kekurangan yang muncul, disinilah kerja keras Gondry, Seth Rogen dan Evan Goldberg akan diuji untuk mampu menutupi kekurangannya dan mereka terbukti memang berhasil menjadikan hasil akhir “The Green Hornet” agar tidak terpuruk. Lewat komedi yang menampar dan ledakan aksi yang sekali lagi saya sebut: menghibur! “The Green Hornet” masih layak untuk disaksikan di layar lebar, untuk merasakan sensasi sengatannya dan juga 3D yang bisa terbilang efektif di beberapa bagian aksinya, khususnya ketika Kato Vision mulai beraksi.
sumber: http://flickmagazine.net/review/545-the-green-hornet.html

TIGA DARA

Bayangan tentang film Indonesia di awal kemunculannya tentu beragam. Klasik dan penuh nuansa yang konservatif. Karya Usmar Ismail sebagai Bapak Perfilman Indonesia tentu tidak perlu diragukan lagi, salah satunya Tiga Dara yang kembali dihadirkan dalam segmen Body of Works: Usmar Ismail bersama enam film lainnya. Kisah tiga kakak beradik yang tinggal bersama ayah dan kakeknya menghadirkan permasalahan yang tidak habis dimakan zaman, jodoh! Nunung, kakak tertua baru saja genap berusia 29 tahun dan membuat nenek begitu ketar-ketir karena sampai nyaris menginjak usia kepala tiga, Nunung tidak menunjukkan tanda-tanda dekat dengan laki-laki. Padahal adiknya, Nana dan Nenny termasuk supel dan mudah bergaul dengan laki-laki. Sang ayah sebenarnya santai menanggapi kekhawatiran nenek tetapi dengan ancaman dan juga permintaan Nenek yang dibuat seperti permintaan terakhir sebelum ajal menjemput mau tak mau membuat Ayah berpikir dua kali. Usaha mencarikan Nunung jodoh pun berjalan, sayangnya perangai Nunung yang terkesan tidak ramah membuatnya sulit diterima di kalangan teman-teman Nana dan Nenny yang notabene laki-laki.
Suatu hari, Nunung tertabrak motor oleh seorang pria bernama Toto. Nunung yang kesal memaki-maki Toto dan menolak diantar pulang sebagai bentuk permintaan maaf. Tidak menyerah begitu saja, Toto mengikuti becak yang ditumpangi Nunung sampai rumah dan berusaha meminta maaf lewat sebuket bunga. Nunung masih saja tidak terima dan menolak kehadiran Toto dengan ketus. Nana justru melihat Toto sebagai pria yang gentlemen dan berusaha mendekati. Alih-alih makin akrab dengan Nunung, Toto justru kian dekat dengan Nana dan Nunung terlihat sedikit cemburu. Sayang, ego Nunung lebih tinggi dari rasa sukanya pada Toto. Toto yang masih berharap pada Nunung mengira akan bisa mendekati Nunung lewat Nana. Kedekatan Toto dan Nana ternyata berlanjut sampai pertunangan. Nenek begitu terkejut dan menolak pertunangan tersebut, ia bilang kalau sampai Nana menikah lebih dulu dari Nunung, Nunung akan menjadi perawan tua seumur hidupnya. Nana begitu marah pada Nunung, akhirnya Nunung memilih pergi ke Bandung di rumah kerabatnya dan berharap mendapat ketenangan di sana.

Sebagai film yang muncul di tahun 50-an lalu dipertontonkan kembali sekarang, ada ekspektasi atau stereotipe yang muncul akibat referensi film yang lebih modern. Cerita yang disuguhkan ketiga dara ini sebenarnya cukup klise dan ratusan film masih mengangkat masalah jodoh sampai era sekarang. Konflik perjodohan yang dirasakan Nunung membuatnya tertekan dan justru menghindar, ignorant. Berbeda karakter dengan kakaknya, Nana justru periang cenderung penggoda. Awalnya ia dekat dengan Herman lalu ketika Toto datang, dengan mudah Nana melepas Herman begitu saja. Nenny diposisikan sebagai karakter yang menetralisir situasi antara Nunung dan Nana. Gaya jenakanya membuat cerita bergulir natural dan tidak dipaksakan. Dialog yang penuh gaya bahasa lama membuat dialognya semakin terasa berbunga-bunga namun masih bisa dimaklumi. Dengan sedikit sentuhan nyanyian, film hitam putih ini sama sekali tidak terasa membosankan.

Potongan dialog Tiga Dara ini cerdas dan tidak mengesankan film lawas tidak lagi relevan dengan kehidupan masa kini. Celetukan-celetukan dari semua tokohnya justru memberikan bukti jelas kalau film klasik memang tidak habis di makan waktu. Hal ini terasa dari dialog Nenek dan Ayah berikut,

Nenek : "Saatnya Nunung menikah sekarang sudah 29 tahun dan tahun depan 30 tahun"
Ayah: "Ah, masih muda itu! Menikah cepat-cepat itu kuno,di zaman dulu!"

Bayangkan, film yang muncul lebih dari 50 tahun lalu menganggap menikah di akhir usia 20-an adalah kuno dan tidak ada masalah melajang sampai usia kepala tiga. Isu yang dianggap melekat di pikiran orang-orang zaman dulu ternyata tidak terbukti lewat film ini. Sebaliknya, di zaman serba canggih saat ini justru isu ini masih saja dipermasalahkan. Melihat gaya Nana dan Nenny yang begitu kontras dengan Nunung yang serba tradisional, film ini juga sepertinya ingin menampilkan bagaimana invasi Eropa masih kental terasa bahkan dalam satu keluarga yang tinggal seatap. Nana dan Nenny seperti lebih bebas dalam berekspresi dan tidak tertutup pada hal-hal baru yang ditemuinya. Nunung seperti merepresentasikan perempuan tradisional dengan segala atributnya, fisik dan juga pikirannya. Ia begitu dalam berpakaian, tidak pernah mengubah penampilan sehari-harinya dari kebaya antiknya, begitu juga ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Nunung cenderung menutup diri, ia memilih berada di dapur memasak, menghibur tamu dengan bermain di balik piano, merawat kedua adik, ayah dan neneknya. Ia lebih baik bersembunyi di balik atribut keibuannya tanpa harus mengeluarkan sisi menariknya seorang perempuan di hadapan laki-laki. Nana yang ceriwis dan centil tidak peduli betapa buruknya ia di dapur atau Nenny yang lebih senang bergurau dengan laki-laki di sekelilingnya, termasuk sang ayah namun interaksi  mereka pun menghasilkan kebahagiaan dan begitu lepas menghadapi masalah hidupnya. Masalah ini ternyata tidak basi ketika kita menontonnya kembali di layar perak yang sudah kusam gambarnya karena masalahnya masih akrab dengan kita penonton di masa mendatang.
Lima puluh lima tahun kemudian, pilihan bagi dara lainnya yang berkaca pada tiga dara ini mau menjadi siapa, terperangkap dalam norma dan stereotipe perempuan yang juga sulit lepas dari zona nyamannya atau berani lepas dari segala keterpaksaannya dan siap menerima risikonya?
sumber: http://flickmagazine.net/review/729-tiga-dara.html

Another Year

Bagi sebagian orang, hidup berjalan dengan begitu indah dan lancar, bahkan tanpa mereka mengusahakannya sekalipun. Bagi sebagian lainnya, kebahagiaan dan manisnya hidup dapat diraih setelah mereka berhasil mengatasi berbagai rintangan dan tantangan yang mereka dapati di dalam keseharian hidup mereka. Namun, sayangnya, hidup tak selalu berakhir dengan kebahagiaan. Bagi sebagian orang lainnya, tak peduli seberapa keras usaha mereka dalam mewujudkan kebahagiaan, harus mengakhiri perjalanan hidup mereka dalam kegagalan, kesedihan maupun kesendirian.
Sebuah tema yang begitu universal untuk dapat diangkat menjadi kerangka bagi naskah cerita sebuah film, namun, secara mengagumkan, mampu dilakukan oleh sutradara asal Inggris, Mike Leigh. Another Year bukan kali pertama dimana Leigh melakukan observasi terhadap arti kehidupan dengan para karakter yang dihadirkan begitu manusiawi dalam kehidupan keseharian mereka. Bahkan, Leigh selalu melakukan hal tersebut dalam setiap filmnya, yang membuat setiap film Leigh tampil begitu sederhana namun mampu memiliki kekuatan untuk dapat meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Namun, Another Year mendapatkan sebuah tempat tersendiri jika dibandingkan dengan beberapa film Leigh sebelumnya ketika jajaran pemeran film ini berhasil menampilkan permainan terbaik mereka dalam menghidupkan unsur komedi dan drama dari Another Year dengan sangat sempurna.
Another Year akan memperkenalkan penontonnya pada pasangan Tom (Jim Broadbent) dan Gerri Hepple (Ruth Sheen), pasangan yang telah menikah sekian lama dan berhasil mengelilingi diri mereka dengan begitu banyak kebahagiaan. Salah satu wujud kebahagiaan tersebut datang dari putera mereka satu-satunya, Joe (Oliver Maltman), yang walaupun sering dinilai Tom dan Mary tidak akan berhasil menarik begitu banyak perhatian wanita kepada dirinya, namun tumbuh menjadi seorang pria yang sukses, hidup teratur dan memiliki hubungan yang sangat baik dengan kedua orangtuanya. Tom, Mary dan Joe adalah potret kebahagiaan sebuah keluarga ideal yang mungkin diimpikan setiap orang.
Sayangnya, rasanya peri kebahagiaan hanya mau menghujani berbagai keberuntungan pada anggota keluarga Hepple, ketika Another Year kemudian menghadirkan sederetan karakter lain dalam bentuk teman maupun anggota keluarga Hepple dalam berbagai kesedihan dan ketidakberuntungan yang mereka alami. Diantara seluruh karakter tersebut, Mary (Lesley Manville) merupakan karakter yang akan paling banyak mencuri perhatian ketika karakternya ditampilkan begitu dominan di sepanjang film. Mary adalah teman sejawat Gerri yang hidup penuh dengan kebohongan: walaupun di kesehariannya ia tampak bahagia dan tersenyum, jauh di lubuk hatinya, Mary sadar kalau ia telah terjebak dalam kesedihan dan kesendirian hidup. Suatu hal yang menyebabkan dirinya selalu melarikan seluruh masalahnya pada kehangatan yang selalu ada di keluarga Hepple.
Mike Leigh memang dikenal sebagai seorang sutradara yang tidak begitu mempedulikan kehadiran plot cerita dalam setiap filmnya. Ini yang membuat Another Year dihadirkan dalam bentuk potongan-potongan kisah hubungan keluarga Hepple dengan karakter-karakter lainnya dalam hubungan mereka di sepanjang empat musim yang berbeda. Walau begitu, kealpaan plot cerita yang tegas justru tidak menjadi sebuah kelemahan besar bagi Another Year ketika mampu menghadirkan setiap kisah yang ada dengan begitu humanis dan nyata. Hal ini, tentu saja, tidak terlepas dari peran setiap jajaran pemeran film ini yang tidak hanya berhasil dalam menghidupkan karakter mereka, namun juga menghasilkan chemistry yang sangat erat satu sama lain. Begitu eratnya chemistry yang terjalin, menyaksikan Another Year hampir menyerupai seperti menyimak berbagai kisah sahabat dekat dimana Anda, sebagai pendengar, akan mampu merasakan setiap kepedihan yang terlontar dari mulut sahabat Anda.
Jim Broadbent dan Ruth Sheen memang bermain sempurna sebagai pasangan Tom dan Gerri yang begitu bijaksana dan mampu memberikan berbagai kalimat hiburan dan penyemangat bagi teman maupun saudara mereka ketika dibutuhkan. Namun bintang utama sebenarnya dari Another Year adalkah aktris Lesley Manville. Berperan sebagai Mary, seorang wanita yang sepertinya terkena depresi pasca perceraian dan berakhirnya kisah hubungan yang ia jalin dengan seorang pria yang telah menikah namun mampu menutupi kesedihan tersebut dengan senyum yang selalu ia tampilkan di wajahnya, Manville adalah detak kehidupan utama dalam Another Year yang akan mampu mengalirkan begitu banyak kesedihan pada setiap penontonnya.
Bagian terbaik dari kemampuan akting yang ditampilkan Manville adalah ia tidak menampilkan seluruh rasa depresi yang ia rasakan melalui tangisan atau teriakan, melainkan dari senyuman yang ia tampilkan. Lewat penjiwaan Manville yang luar biasa, penonton akan mampu merasakan bahwa setiap senyum dan tawa yang ditampilkan karakter Mary adalah sebuah kepalsuan yang digunakannya untuk menutupi kepedihan hati sebenarnya. Begitu dingin dan kaku, jauh berbeda dari berbagai senyum dan tawa yang diberikan oleh Tom, Gerri dan Joe yang begitu penuh kehangatan. Sama seperti halnya Happy-Go-Lucky (2007) yang mempertentangkan karakter yang telah “berdamai” dengan kehidupan dengan karakter yang masih “berperang” dalam menghadapinya, dua sisi inilah yang mampu ditampilkan Mike Leigh dengan begitu baik sehingga setiap emosi yang terhantar dalam setiap adegan mampu tampil begitu maksimal dan mengena bagi penontonnya.
Walau begitu sederhana, ada begitu banyak metafora yang terkandung dalam kisah Another Year. Mulai dari simbolisme akan perjuangan kehidupan yang tercermin dari usaha pasangan Tom dan Gerri dalam mengelola perkebunan mereka, bahwa kehidupan yang sulit merupakan pilihan seseorang dalam menjalankan hidupnya yang tercermin dari mobil yang dibeli Mary yang kemudian hanya menyulitkan dirinya karena kebutaannya soal mobil, hingga berbagai metafora lain yang dapat dengan mudah dihubungkan dengan berbagai hal dalam kehidupan seorang manusia: persahabatan, ketidakbahagiaan, kematian, kehidupan, perceraian hingga pilihan untuk mencintai seseorang. Pilihan Mike Leigh untuk tidak memberikan jawaban bagi berbagai persoalan Mary di akhir cerita juga merupakan sebuah pilihan yang humanis: apakah Mary akan meneruskan kehidupannya yang diliputi kesedihan atau membuat perubahan untuk sebuah kehidupan yang lebih baik? Leigh tidak memberikan jawaban tersebut karena, tidak seperti Woody Allen yang tampak selalu menentukan dan mengontrol penuh akan nasib setiap karakternya, Leigh sepertinya percaya bahwa setiap saat karakternya dapat berubah menjadi seorang karakter yang berbeda untuk menentukan jalan hidup yang baru.
Rasanya, hanya Mike Leigh dan Woody Allen yang mampu memanfaatkan berbagai kejadian sederhana dalam kehidupan manusia untuk memberikan dramatisasi yang kuat akan arti sebuah kehidupan itu sendiri. Leigh, dalam satu sisi, memiliki keunggulan tersendiri ketika ia percaya bahwa setiap karakter yang ia buat di dalam jalan ceritanya memiliki hak untuk menentukan jalan hidup mereka. Begitu humanis dan begitu nyata, suatu hal yang begitu dapat dirasakan dalam setiap detak durasi Another Year. Didukung dengan jajaran pemeran yang begitu mampu menampilkan tingkat permainan terbaik dalam menghidupkan karakter mereka dan akan mampu membuat penonton melupakan sedikit kelemahan yang ada dalam plot cerita film ini, Another Year berhasil berdiri sebagai salah satu film terbaik yang pernah dihasilkan Mike Leigh.
sumber: http://flickmagazine.net/review/750-another-year.html

'The Amazing Spider-Man' Sequel Already in the Works

 "The Amazing Spider-Man" belum juga menuntaskan syutingnya, pihak studio Columbia Pictures sudah melangkah maju ke depan dengan merekrut James Vanderbilt untuk menuliskan skrip untuk sekuelnya, sepertinya mereka begitu yakin film ini akan meledak, semoga demikian, karena walau saya bukan penggemar berat si manusia laba-laba ini, saya cukup menunggu proyek reboot ini akan seperti apa dan siapa saja musuh yang akan dimunculkan.
Vanderbilt sendiri sekarang terlibat dalam "The Amazing Spider-Man" sebagai penulis skrip, sebelumnya dia juga sudah dilibatkan dalam proyek "Spider-Man 4" ketika Sam Raimi masih diharapkan akan melanjutkan franchise ini dengan pihak Columbia bersama dengan Tobey Maguire sebagai sang jagoan berkostum laba-laba, namun pada akhirnya proyek tersebut gagal.
"The Amazing Spider-Man" dibintangi oleh Andrew Garfield (The Social Network) yang berperan sebagai Peter Parker, film ini juga akan diramaikan oleh kehadiran Rhys Ifans sebagai the Lizard, Emma Stone sebagai Gwen Stacy, Martin Sheen sebagai Ben Parker, Sally Field sebagai May Parker, dan Denis Leary sebagai George Stacy. "The Amazing Spider-Man" disutradarai oleh Marc Webb (500 Days of Summer) dan dijadwalkan tayang pada 3 Juli 2012.
sumber: http://flickmagazine.net/news/765-the-amazing-spiderman-sequel-already-in-the-works.html